- Details
- Category: Budaya Pariwisata
- Published Date
- Written by bowo
BANDUNG (SINDO) – Hanya dalam empat kali pagelaran, lakon sandiwara Sunda berjudul Masyitoh hasil garapan kelompok Sandiwara Sunda Ringkang Gumiwang, mampu menyedot 3.700 penonton yang mayoritas dari kalangan pelajar.
Sandiwara ini digelar secara berkala sejak 29 Januari 2011. “Bahkan bila dihitung sejak September 2010,lakon Masyitoh ditambah lakon lainnya sudah ditonton sekitar 9.000 orang,”ungkap Ketua Padepokan Ringkang Gumiwang Wa Kabul, 58, seusai pagelaran di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Kosambi Kota Bandung,kemarin.
Tokoh sandiwara Sunda Jawa Barat ini menegaskan, sejak tahun 2011 dia akan total menghidupkan kembali sandiwara Sunda yang dalam tujuh tahun terakhir ini sempat mengalami kevakuman.Dia mengaku bangga,sandiwara Sunda yang hampir ditinggalkan masyarakat itu kini dilirik kembali masyarakat terutama kalangan generasi muda.
Untuk membangun daya tarik di kalangan remaja,dirinya mengaku terdorong melakukan sedikit perubahan pada konsep pagelaran sandiwara. Wa Kabul mengolaborasikan antara konsep sandiwara tradisional dan konsep drama modern demi menghasilkan karya yang menarik dan berkualitas. “Seperti pada blocking panggung, penaskahan,tata rias,setting panggung, olah vokal serta unsur lainnya.
Tetapi improvisasi akting secara penuh tetap tidak dihilangkan, karena unsur ini bisa dikatakan sebagai pakemnya sandiwara. Kolaborasi ini saya lakukan demi mengikuti perubahan paradigma masyarakat akan sebuah tontonan pertunjukkan drama di atas panggung,” ungkap Wa Kabul. Dikatakan,setidaknya ada tiga unsur penting dalam mengapresiasi pagelaran sandiwara Sunda, yakni pengenalan sosiodrama yang sejalan dengan kurikulum muatan lokal di sekolah.
Kemudian, penerapan bahasa dan sastra Sunda dalam bentuk drama.Selain itu, penerapan budi pekerti dan tata krama kehidupan terutama bagi kalangan remaja. “Terkait lakon Masyitoh,unsur pendidikan akidah Islam sangat berguna bagi mereka,lantaran berisi tentang keteguhan iman seorang wanita bernama Masyitoh kepada Allah pada zaman Firaun di tanah Mesir,”ujar Wa Kabul. Kualitas pertunjukan ternyata cukup menentukan bagi kalangan sekolah untuk memberikan apresiasinya.
Hal itu ditegaskan Kiki Maria Hodijah, Guru Bahasa Sunda SMK Negeri 2 Kota Bandung,seusai pertunjukan. Dia mengaku tidak kecewa telah menugaskan 350 siswanya untuk mengapresiasi pementasan tersebut, karena kualitas pertunjukan yang dibawakan oleh Ringkang Gumiwang dinilainya cukup bagus dan menghibur.
“Dulu pernah beberapa kali ditawari nonton pertunjukan seperti ini, tapi kualitasnya kurang bagus. Maka terpaksa saya tolak. Dan baru kali ini saya berani menugaskan siswa untuk menonton, karena pertunjukannya sangat bagus,” ungkap Kiki, seraya menambahkan seusai menonton pertunjukan seluruh siswa diwajibkan membuat sinopsis cerita sandiwara tersebut.
Cerita Masyitoh awalnya berupa buku karya budayawan Ajip Rosidi, yang kemudian Wa Kabul menyadurnya menjadi sebuah rangkaian cerita dalam bentuk naskah sandiwara. Naskah ini diperankan oleh 22 aktor aktrisnya.Dalam klasifikasi bentuk garapan sandiwara Sunda, lakon Masyitoh dimainkan dalam bentuk desik yang sumber ceritanya bernuansa keagamaan, seperti cerita 1001 Malam. (atep abdillah kurniawan)
Sumber: Harian Seputar Indonesia - Senin, 07 Februari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar