Senin, 22 September 2014

profile wa kabul

Kabul E Samsudin - Copy
Nama :
Kabul E. Samsudin

Lahir :
Bandung, Jawa Barat,
18 Agustus 1952

Pendidikan :
SD-SMA (Bandung)

Profesi :
Pimpinan Padepokan Seni Ringkang Gumiwang
Penulis naskah sinetron dan cerita wayang

Karya :
Sandiwara Sunda Raja Lieur (2010),
Sandiwara Sunda Masitoh (2011)


Kabul E. Samsudin

                              
Wa’ Kabul sapaan akrabnya, dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 18 Agustus 1952. Pendidikannya sejak SD sampai SMA di tempuh di Bandung, Jawa Barat. Di tahun 1970-an ia sudah berkiprah di bidang seni, meski bukan kesenian tradisi. Ketika itu, ia menjadi pemain bas sekaligus vokalis band, yang menjadi band tetap sebuah klab malam di Bandung, Jawa Barat. Namun, lama kelamaan klab malam pun sepi pengunjung, karena para tamu beralih ke diskotek. Ketika itulah, ia mendapatkan ‘babalik pikir’ (kembali ke jalan yang benar), di mana ia tertarik untuk menekuni kesenian tradisi Sunda. Menurutnya, bagaimana pun kondisinya, kesenian rakyat itu harus tetap ada

Ia kemudian menekuni longser, semacam lenong Betawi, tapi penuturnya menggunakan bahasa sunda. Dua minggu sekali seni longser di gelar di TVRI Jawa Barat. Sambil menekuni longser, ia juga mendalami teater rakyat atau sandiwara Sunda. Dalam aktivitasnya ini, ia kemudian dipercaya untuk menjadi pimpinan Padepokan Seni Ringkang Gumiwang yang awalnya bernama Jati Nugraha, yang berdiri sejak 1978. Padepokan ini sendiri merupakan salah satu dari empat padepokan drama Sunda yang dulunya aktif, seperti padepokan Seni Sri Murni, Dewi Murni dan Vikta.

Hasil karyanya yang berupa drama atau sandiwara Sunda ditampilkan di Gedung Kesenian Rumentang Siang, yang terletak di tengah Pasar Kosambi, kawasan pusat kota Bandung, Jawa Barat. Gedung ini juga menjadi tempat berkumpul seniman tradisi Sunda. Selama lima hari dalam sebulan, ia juga menggelar sandiwara di Taman Budaya Jawa Barat, Dago, Bandung Utara, atau di Gedung Sunan Ambu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, Jawa Barat.

Dalam setiap pergelarannya, ia menjadi sutradara sekaligus penulis skenario. Cerita-cerita yang ia tampilkan umumnya melukiskan kehidupan sehari-hari rakyat kebanyakan. Namun, ia berupaya memodifikasi pertunjukan itu agar layak tayang atau layak tampil di tempat pergelaran. Dengan cara itu, ia berharap penonton tidak bosan. Modifikasi yang dilakukanya mulai dari tata cahaya, dekorasi panggung, hingga alur cerita.

Ia juga memilih pemain yang umumnya berparas relatif cantik dan ganteng agar penonton senang. Tak hanya penampilan, pemain juga diharuskan berlatih sungguh-sungguh sebelum pertunjukan digelar. Serta mereka juga harus membaca naskah cerita dan menghapal dialog masing-masing. Ia juga berusaha konsisten dalam mengadakan pertunjukan, seberapa pun banyaknya penonton yang datang.

Bulan Oktober 2010, ia kembali membangkitkan seni sandiwara Sunda yang selama hampir tujuh tahun tak pernah ada pementasan, dengan mementaskan sandiwara berjudul Raja Lieur. Bulan Februari 2011, selama empat hari, ia kembali menggelar sandiwara Sunda bernuansa religi berjudul Masitoh, yang berkisah tentang perjuangan seorang perempuan pada masa Fir’aun di di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Baranang Siang, Bandung, Jawa Barat. Kisah Masitoh sendiri merupakan karya Ajip Rosidi, yang skenarionya dibuat dan disutradarainya untuk drama Sunda. Pementasan itu berhasil menyedot banyak penonton.   

Di kalangan seniman Bandung, ia juga di kenal sebagai sosok yang patuh menjaga nilai-nilai tradisi. Pembawaan seperti itu menjadikannya bisa ’menembus’ perguruan tinggi untuk mempresentasikan berbagai makalah seni. Ia juga kerap menulis artikel, terutama di media berbahasa Sunda, seperti Mangle, Giwangkara, atau Galura. Dalam perjalanan kariernya, ia juga menulis naskah sinetron dan cerita wayang. Salah satunya di simpan di sebuah perpustakaan di Amerika Serikat.

Setelah sempat menjual rumahnya di kawasan Cibiru, Bandung Timur, Jawa Barat, demi mendapatkan dana untuk membiayai pergelaran sandiwara Sunda, mulai dari pembelian kostum sampai honor pemain, serta sempat sekitar tujuh tahun tinggal di rumah kontrakan bersama keluarga, akhirnya tahun 2011, Wa’ Kabul mampu membeli rumah yang tak jauh letaknya dari rumahnya semula. Malah rumah barunya itu lebih luas di bandingkan rumah lama. Di tempat ini jugalah padepokannya yang seluas sekitar 8 m x 6 m berdiri.

Di dukung sekitar 100 anggota yang tergabung dalam Padepokan Seni Ringkang Gumiwang, ia terus menelurkan karya. Ia tetap tekun dan memiliki daya juang untuk berubah mengikuti perkembangan jaman. “Seniman jangan ‘menunggu bola’, tapi harus aktif ‘menjemput bola’,” ujarnya. Menikah dengan Ida Laila, dikaruniai dua orang anak, Bayu Endang Suharta dan Angin Endang Suharti.

(Dari Berbagai Sumber)

3.700 PELAJAR SAKSIKAN LAKON MASYITOH



BANDUNG (SINDO) – Hanya dalam empat kali pagelaran, lakon sandiwara Sunda berjudul Masyitoh hasil garapan kelompok Sandiwara Sunda Ringkang Gumiwang, mampu menyedot 3.700 penonton yang mayoritas dari kalangan pelajar. 

Sandiwara ini digelar secara berkala sejak 29 Januari 2011. “Bahkan bila dihitung sejak September 2010,lakon Masyitoh ditambah lakon lainnya sudah ditonton sekitar 9.000 orang,”ungkap Ketua Padepokan Ringkang Gumiwang Wa Kabul, 58, seusai pagelaran di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Kosambi Kota Bandung,kemarin. 

Tokoh sandiwara Sunda Jawa Barat ini menegaskan, sejak tahun 2011 dia akan total menghidupkan kembali sandiwara Sunda yang dalam tujuh tahun terakhir ini sempat mengalami kevakuman.Dia mengaku bangga,sandiwara Sunda yang hampir ditinggalkan masyarakat itu kini dilirik kembali masyarakat terutama kalangan generasi muda. 

Untuk membangun daya tarik di kalangan remaja,dirinya mengaku terdorong melakukan sedikit perubahan pada konsep pagelaran sandiwara. Wa Kabul mengolaborasikan antara konsep sandiwara tradisional dan konsep drama modern demi menghasilkan karya yang menarik dan berkualitas. “Seperti pada blocking panggung, penaskahan,tata rias,setting panggung, olah vokal serta unsur lainnya.

Tetapi improvisasi akting secara penuh tetap tidak dihilangkan, karena unsur ini bisa dikatakan sebagai pakemnya sandiwara. Kolaborasi ini saya lakukan demi mengikuti perubahan paradigma masyarakat akan sebuah tontonan pertunjukkan drama di atas panggung,” ungkap Wa Kabul. Dikatakan,setidaknya ada tiga unsur penting dalam mengapresiasi pagelaran sandiwara Sunda, yakni pengenalan sosiodrama yang sejalan dengan kurikulum muatan lokal di sekolah. 

Kemudian, penerapan bahasa dan sastra Sunda dalam bentuk drama.Selain itu, penerapan budi pekerti dan tata krama kehidupan terutama bagi kalangan remaja. “Terkait lakon Masyitoh,unsur pendidikan akidah Islam sangat berguna bagi mereka,lantaran berisi tentang keteguhan iman seorang wanita bernama Masyitoh kepada Allah pada zaman Firaun di tanah Mesir,”ujar Wa Kabul. Kualitas pertunjukan ternyata cukup menentukan bagi kalangan sekolah untuk memberikan apresiasinya. 

Hal itu ditegaskan Kiki Maria Hodijah, Guru Bahasa Sunda SMK Negeri 2 Kota Bandung,seusai pertunjukan. Dia mengaku tidak kecewa telah menugaskan 350 siswanya untuk mengapresiasi pementasan tersebut, karena kualitas pertunjukan yang dibawakan oleh Ringkang Gumiwang dinilainya cukup bagus dan menghibur. 

“Dulu pernah beberapa kali ditawari nonton pertunjukan seperti ini, tapi kualitasnya kurang bagus. Maka terpaksa saya tolak. Dan baru kali ini saya berani menugaskan siswa untuk menonton, karena pertunjukannya sangat bagus,” ungkap Kiki, seraya menambahkan seusai menonton pertunjukan seluruh siswa diwajibkan membuat sinopsis cerita sandiwara tersebut. 

Cerita Masyitoh awalnya berupa buku karya budayawan Ajip Rosidi, yang kemudian Wa Kabul menyadurnya menjadi sebuah rangkaian cerita dalam bentuk naskah sandiwara. Naskah ini diperankan oleh 22 aktor aktrisnya.Dalam klasifikasi bentuk garapan sandiwara Sunda, lakon Masyitoh dimainkan dalam bentuk desik yang sumber ceritanya bernuansa keagamaan, seperti cerita 1001 Malam. (atep abdillah kurniawan) 

Sumber: Harian Seputar Indonesia - Senin, 07 Februari 2011

Sandiwara Sunda Masiytoh Sedot 9 Ribu Penonton

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Dedi Herdiana

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Pergelaran sandiwara Sunda yang mengambil judul Masitoh, sebuah cerita rakyat Mesir, berhasil menyedot sekitar sembilan ribu penonton. Jumlah penonton itu merupakan total dari setiap pementasan yang digelar selama empat hari, sejak Kamis (3/2) hingga Minggu (6/2) dengan tiga kali pertunjukan setiap harinya di Gedung Kesenian (GK) Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang, Bandung.

"Ini membuat kami bangga. Karena sandiwara bahasa Sunda yang coba kami angkat kembali bisa sampai kepada ribuan pelajar yang masih remaja. Maka kami berharap anak-anak muda bisa kenal lagi dengan sandiwara Sunda," kata E Samsudin, yang akrab disapa Wa Kabul, pimpinan Padepokan Ringkang Gumiwang, kepada Tribun di GK Rumentang Siang, Minggu (6/2) sore.

Pertunjukan itu, kata Wa Kabul, merupakan upayanya untuk membangkitkan kembali seni sandiwara Sunda yang selama tujuh tahun ini tak pernah ada pementasan. Upayanya itu sudah dilakukan sejak pertengahan tahun 2010 dengan pementasan pertamanya sandiwara berjudul Raja Lieur pada Oktober 2010.

"Untuk pementasan Masitoh itu saya siapkan naskahnya dari buku Masitoh karya Ajip Rosidi yang 98 halaman jadi naskah sandiwara sebanyak 21 halaman," katanya.

Pembuatan naskahnya, kata Wa Kabul, dikerjakannya sejak dua bulan lalu. Sekarang sudah mulai dipentaskan oleh 22 pemain dibantu oleh belasan kru dengan durasi 80 menit.

"Ini saya targetkan untuk dipentaskan terus-menerus, dua bulan sekali dengan setiap pementasan selama empat hari dalam tahun 2011 ini," kata Wa Kabul, yang rencananya 17 Februari ini sudah memastikan akan mementaskannya di Balai Pengelolaan Taman Budaya Jabar.
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar